PUISI
BERBAHAGIALAH
Kelam,
Ketika sinar mentari tersingkap ke kejauhan
Berballik arah tutupi badan
Kelam,
Gulita yang tersibak dalam hempasan gelombang
Gelombang malam yang terpercik rembulan
Sepi,
Sesal yang bergelayut dalam remang- remang lentera syahdu
Akankah kembali engkau masaku?
Tak akan pernah luka yang tergores kan terlupa
tak pula kikisan ombak pada karang akan kembali ke tuannya
Waktu,
Tak kan mau ia kembali membawaku
Membawaku berpaling dari gejolak tangisan sesal
Tak kan mampu ia membawaku menyusuri lorong zaman
Tak kan mampu daku menyibak
sehelai benang takdir yang terlalu jauh untukku susuri
Ketika hati tak lagi mampu
Ketika jiwa tak bergelora
Tangisan lirih dan suara parau yang menjijikkan
Wahai jiwa yang tertutup kekufuran
Tidakkah kau menatap kerasnya hidup insan diantaramu
Kau bisa melahap sepiring nasi
Mereka tidak sama sekali
Kau bisa bercanda gurau dengan familli meski dalam kesederhanaan
Mereka tak punya lagi
Suara malam memekik pilu
Tarian malam
mengoyak kalbu
Sepi, lirih,
mencekam
Dunia bukan hanya
milik sarjana
Dunia bukan hanya
milik orang kaya
Dunia bukan milik
orang yang rupawan
Tapi dunia milik
mereka yang bisa bahagia
Bahagia tatkala
mereka selalu sadar akan nikmat Tuhannya
Bahagia ketika
sehela nafas kau syukuri
Seiring itu
nikmat apapun kan terasa besar
Surabaya, 10 Mar 2016
W.A.T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar